Menilik Kebijakan Seragam Ujian Mahasiswa

Pasca-aksi mahasiswa pada Kamis (16/03) yang menolak isi dari surat edaran terkait penyeragaman pakaian mahasiswa saat ujian, kebijakan dalam surat edaran tersebut kemudian diserahkan kepada masing- masing fakultas. Pada umumnya, Dekan dari tiap fakultas tetap mempertahankan perintah dalam surat edaran tersebut, namun tidak memaksakan mahasiswanya. Dalam implementasinya, sebagian mahasiswa memakai pakaian yang telah ditentukan, yakni pakaian putih dan bawahan hitam (putih-hitam), namun sebagian besar lainnya tidak.


Ditemui di ruang Dekan Fakultas Arsitektur dan Desain (FAD), Muchlisin Safeyah menyampaikan bahwa sebelumya dia menerapkan sanksi bagi yang tidak menerapkan perintah dari surat edaran. Namun karena dari pihak rektorat memberikan himbauan agar tidak memberikan sanksi ‘tidak boleh mengikuti ujian’ untuk mahasiswa, maka FAD memberlakukan perintah tersebut sesuai arahan. “Karena masalah sosialisasi yang terlalu mepet. Ada sebagian kecil yang memakai putih-hitam, namun jarang,” jelasnya.


Hal serupa juga diberlakukan di Fakultas Teknik (FT). Sutiyono selaku Dekan FT mengatakan bahwa ia tetap menyarankan mahasiswanya untuk mengenakan ketentuan pakaian putih-hitam saat ujian. Hal tersebut disampaikannya melalui masing-masing koordinator program studi. Namun, tidak ada sanksi bagi mahasiswa FT yang tidak mengenakan pakaian putih-hitam. Hal ini dinilai oleh Sutiyono sebagai tahap pertama untuk penyesuian.


Salah satu mahasiswa FT mengaku tidak keberatan dengan adanya peraturan tersebut. “Saya sih nggak masalah. Apa salahnya tampil rapi saat ujian?”, ungkap Yusuf (TI/16). Ni Ketut Sari, Dekan Fakultas Ilmu Komputer (Fasilkom) juga menerapkan kebijakan yang sama. “Kita harus nurut sama atasan karena suatu saat jika kita butuh bantuan bisa dibantu. Harus ada umpan balik antara kita dengan pihak universitas,” tuturnya. Namun demikian, untuk Senin (27/03) seluruh mahasiswa Fasilkom diwajibkan untuk mengenakan pakaian putih-hitam karena akan diadakan pengambilan gambar video profil UPN “Veteran” Jawa Timur terbaru.


Sementara itu, salah satu mahasiswa Fakultas Hukum (FH), Nadia Ummiyatul Bilqis (Hukum/2016) mengatakan bahwa pada awalnya ia memakai pakaian bebas rapi saat ujian. “Soalnya kemarin ada surat edaran yang katanya kalau nggak pakai putih hitam itu nggak papa, masih bisa ujian,” katanya. Namun karena ditegur oleh Dekan, keesokan harinya ia mengenakan pakaian putih-hitam sebagaimana yang telah dintentukan dalam surat edaran.


Di Fakultas Pertanian (FP), Wakil Dekan (Wadek) III fakultas tersebut pada Kamis (23/03) menghimbau mahasiswanya ke tiap-tiap kelas untuk tetap memakai pakaian putih-hitam saat ujian. “Senin-Selasa kita pakai putih-hitam dan Rabu-Kamis pakai bebas. Nah, berhubung ada pengumuman secara langsung dari Wadek III, akhirnya saya pakai putih-hitam untuk hari ini dan seterusnya,” jelas Nana (Agroteknologi/16) saat diwawancarai pada Jumat (24/03). Ia memberikan respon positif terkait kebijakan ini karena menganggapnya sebagai pembiasaan diri untuk kedepannya.
 
Berbeda dengan fakultas lain, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) menerapkan pemakaian putih-hitam hanya pada hari Senin dan Selasa. Dua hari selanjutnya, yakni Rabu dan Kamis, memakai atasan batik, dan Jumat memakai pakaian bebas rapi. Terkait sanksi, dekan menegaskan bahwa akan ada catatan dan peringatan sebagai kontrol panitia untuk hari berikutnya. Hal ini dilakukan demi menunjukkan ciri khas UPN sebagai Kampus Bela Negara. Devi Aprilia (Adbis/2015) mengatakan bahwa ia lebih setuju dengan kebijakan yang ada di fakultasnya. “Soalnya kan kalau pakai putih-hitam terus kita butuh banyak baju, minimal tiga,” ungkapnya. Akan tetapi ia berpendapat bahwa lebih baik tidak perlu ada penyeragaman dikarenakan tidak berpengaruh terhadap hasil ujian.


Keberatan akan penggunaan pakaian putih-hitam selama ujian juga diungkapkan oleh Ahmad Agus Rifai (TI/14). Ia mengaku tidak setuju jika mahasiswa memakai putih-hitam setiap hari saat ujian. “Kita kan Mahasiswa, bukan Siswa. Kalau peraturannya gitu kayak dikekang sama institusi,” ungkapnya. Ia juga mengusulkan untuk memakai almamater jika ingin diseragamkan.
Mahasiswa Fakultas Teknik tersebut juga berharap bahwa dalam membuat kebijakan, seharusnya pihak universitas mensosialisasikannya lebih awal, dan alangkah lebih baiknya pada saat Pekan Mahasiswa Baru (PEMABA). “Aku jujur aja nggak senang, karena kemarin-kemarin nggak ada peraturan kayak gitu. Minimal tiga bulan sebelumnya itu sudah dikasih tahu,” pungkasnya. [RAD/ https://tinyurl.com/persupn-kebijakanseragam]

Program Studi

Fakultas Ekonomi & Bisnis
  1. Ekonomi Pembangunan
  2. Manajemen
  3. Akuntansi
Fakultas Teknik
  1. Teknik Industri
  2. Teknik Kimia
  3. Teknologi Pangan
  4. Teknik Sipil
  5. Teknik Lingkungan
Fakultas Ilmu Komputer
  1. Teknik Informatika
  2. Sistem Informasi
Fakultas Ilmu Sosial & Politik
  1. Administrasi Negara
  2. Administrasi Bisnis
  3. Ilmu Komunikasi
  4. Hubungan Internasional
Fakultas Arsitektur & Desain
  1. Arsitektur
  2. Desain Komunikasi Visual
Fakultas Pertanian
  1. Agroteknologi
  2. Agribisnis
Fakultas Hukum
  1. Ilmu Hukum
Program Pascasarjana
  1. M. Manajemen
  2. M. Akuntansi
  3. M. Agribisnis
  4. M. Agroteknologi
  5. M. Ilmu Lingkungan
site stats