UPN Bersama Puluhan Perguruan Tinggi se-Jawa Timur Deklarasikan Anti Radikalisme

IMG 9294Perguruan tinggi se-Jawa Timur mengikrarkan deklarasi anti radikalisme di gedung Techno Park Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jawa Timur, Surabaya, Kamis (6/7). Deklarasi tersebut dibacakan oleh Rektor UPN Veteran Jatim Prof. Dr. Ir. Teguh Soedarto, MP dan diikuti oleh perwakilan dari masing-masing perguruan tinggi.

Acara deklarasi yang merupakan salah satu rangkaian Dies Natalis UPN “Veteran” Jawa Timur ke 58 dan Pameran Teknologi Tepat Guna Untuk Desa ini dihadiri oleh Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Muhammad Nasir serta Sekretaris Utama Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Mayor Jenderal Gautama Wiranegara. Setelah  pembacaan deklarasi, masing-masing perwakilan perguruan tinggi membubuhkan tanda tangan pada spanduk yang dibentangkan di panggung.

Deklarasi memuat lima pokok. Di antaranya, menjunjung tinggi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), mencegah dan melawan berbagai bentuk kegiatan yang bertentangan dengan Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika.

Ikrar ketiga, mencegah dan melarang berbagai bentuk kegiatan radikalisme dan terorisme dengan tetap menjaga kerukunan umat beragama. Dua pokok terakhir yakni mencegah dan melarang penyalahgunaan dan peredaran narkoba dan zat adiktif lainnya, serta menanamkan dan mengimplementasikan nilai-nilai bela negara.

Menristek Himbau Mahasiswa Waspada Paham Radikalisme

Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Muhammad Nasir menyatakan agar jangan sampai para mahasiswa dan dosen memiliki paham radikalisme. "Kita harus waspada. Supaya negara Indonesia tetap terjaga," jelasnya kepada wartawan seusai deklarasi.

Menurutnya, jika nantinya terdapat mahasiswa atau dosen yang terkena paham radikalisme, maka rektor diminta bertanggung jawab. Salah satunya dengan menyadarkan agar kembali kepada Pancasila dan NKRI.

"Instrumen-instrumen apa saja yang muncul di kampus, contoh mahasiswa mulai melakukan kegiatan-kegiatan radikalisme, rektor tugasnya mengingatkan. Laporkan kepada yang berwajib, kita memiliki kepolisian dan BNPT,"  kata Nasir.IMG 9628

Para rektor juga diminta melakukan monitoring setiap hari dengan menugaskan dekan dan dosen. Agar bekerja sama dengan mahasiswa untuk mengajak kembali kepada NKRI dan Pancasila.

Nasir menilai peran perguruan tinggi sangat besar karena menjadi ujung tombak di depan kaitannya masalah bela negara. Tugas perguruan tinggi sekarang tidak cukup hanya meluluskan sarjana, melainkan para lulusan harus memiliki kompetensi dan jiwa nasionalisme yang tinggi.

"Bagaimana berperilaku sebagai bangsa Indonesia tetap memelihara negara kesatuan Republik Indonesia. Nasionalisme saja tidak cukup. Oleh karena itu, pendekatan antara religius dan nasionalis menjadi sangat penting,"  katanya.


BNPT tegaskan generasi muda rentan pengaruh radikalisme


Sestama Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) R. Gautama Wiranegara mengatakan, tantangan radikalisme global saat ini mengancam Indonesia. Generasi muda rentan akan pengaruh radikalisme. Hal itu terlihat dari hasil penelitian yang menunjukkan bahwa pelaku radikalisme paling banyak berasal dari kalangan anak muda.

“Saat ini BNPT sudah berkoordinasi dengan 32 kementerian untuk penanganan radikalisme dan terorisme, sehingga akan terlihat peran masing-masing, siapa berbuat apa,” ujar Gautama, di Surabaya, Kamis (6/7).

Ia menambahkan bahwa penanganan radikalisme dan terorisme merupakan tanggung jawab bersama. Gautama juga mengingatkan besarnya pengaruh penyebaran radikalisme dan terorisme melalui internet dan media sosial. 

Menurutnya, pembentukan Badan Siber dan Sandi Negara, yang sedang dilakukan pemerintah merupakan salah satu upaya untuk menanggulangi penyebaran radikalisme melalui internet dan media sosial.

“Dari pengaruh media sosial, banyak orang Indonesia, umumnya anak muda, yang berangkat ke Suriah,” ujar Gautama.

UPN Veteran Jatim Siapkan Kurikulum Pendidikan untuk Menangkal Radikalisme Dalam Kampus

IMG 9670Maraknya isu terorisme di tanah air ini, membuat Menteri Riset dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir mengarahkan pada lingkup kampus agar menerapkan kurikulum antiradikalisme. Nasir mengatakan, dorongan tersebut bertujuan agar perguruan tinggi lain menyesuaikan pada tahun ajaran baru kali ini.

“Kurikulum baru ini juga kami rancang, dan tak hanya PNS saja yang diatur untuk tidak menganut paham radikal. Namun kaum akademisi juga sangat perlu untuk hal ini tentunya. Dan nanti sistem perkuliahan harus ada pertanggungjawaban agar steril dari gerakan radikalisme di kampus tersebut salah satunya UPN “Veteran” Jatim ini, jika ada pihak rektorat harus menindak tegas oknum tersebut,” tegas Nasir.

Di kesempatan yang sama, Prof Teguh Soedarto, Rektor UPN Jatim memaparkan, kurikulum antiradikalisme bakal dikaji oleh pihaknya untuk diterapkan pada beberapa mata kuliah pokok. Seperti mata kuliah Bela Negara, pancasila, UUD 1945, kewarganedaraan dan agama. Diharapkan melalui pembahasan antiradikalisme dalam mata kuliah tersebut karakter nasionalisme akan terbentuk.

“Untuk saat ini kami bakal membahas teknis bagian mana sesuai untuk disisipkan materi radikalisme dan terorisme. Dengan demikian, para mahasiswa akan mengerti progres yang ada saat ini,” jelas Teguh.

Abu Amanah Rahman, Wakil Presiden BEM Fakultas Teknik UPN “Veteran” Jatim juga menyampaikan, keseriusan kemenristekdikti memberhangus radikalisasi gerakan yang pahamnya bertentangan dengan pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal ika dan NKRI dalam dunia pendidikan tinggi perlu mendapatkan apresiasi tersendiri sebab merupakan salah satu langkah maju yang patut di dukung dengan sepenuh hati.

” Yang menjadi perhatian bahan pemberantasan radikalisasi tersebut, haruslah menyentuh sampai akar-akarnya tidak hanya secara simbolitas atau hanya permukannya saja,” tegas Abu

Diketahui, dalam di sela-sela agenda inti, juga dipamerkan 213 paket teknologi yang dibantukan dan dipakai  desa tertinggal yang telah dipakai di 68 kabupaten dengan bekerja sama dengan Kementerian Transmigrasi dan Daerah Tertinggal sejak enam tahun lalu.

Dan produk-produk tepat guna itu yang di ciptakan dari beberapa Perguruan Tinggi di Jatim. Seperti Universitas Brawijaya, Institut TeknoIogi Sepuluh Nopember (ITS) dan Universitas Negeri Surabaya (Ubaya). (red)

Program Studi

Fakultas Ekonomi & Bisnis
  1. Ekonomi Pembangunan
  2. Manajemen
  3. Akuntansi
Fakultas Teknik
  1. Teknik Industri
  2. Teknik Kimia
  3. Teknologi Pangan
  4. Teknik Sipil
  5. Teknik Lingkungan
Fakultas Ilmu Komputer
  1. Teknik Informatika
  2. Sistem Informasi
Fakultas Ilmu Sosial & Politik
  1. Administrasi Negara
  2. Administrasi Bisnis
  3. Ilmu Komunikasi
  4. Hubungan Internasional
Fakultas Arsitektur & Desain
  1. Arsitektur
  2. Desain Komunikasi Visual
Fakultas Pertanian
  1. Agroteknologi
  2. Agribisnis
Fakultas Hukum
  1. Ilmu Hukum
Program Pascasarjana
  1. M. Manajemen
  2. M. Akuntansi
  3. M. Agribisnis
  4. M. Agroteknologi
  5. M. Ilmu Lingkungan
site stats